Semuanya bermula dari rasa sakit yang saya pikir cuma numpang lewat.
Hari Senin lalu, perut saya mulai terasa sakit. Karena kebetulan sedang puasa sunnah, saya menanggapinya dengan santai. "Ah, ini paling sakit perut biasa karena lagi puasa. Nanti pas selesai berbuka juga pasti sembuh sendiri," pikir saya waktu itu. Jadi, saya abaikan.
Masuk hari Selasa, saya tetap berangkat ngantor seperti biasa. Sakit perutnya memang masih terasa, tapi entah kenapa saya merasa sangat yakin kalau ini bukan hal serius. Badan masih terasa bugar, tidak ada demam, tidak ada mual, semuanya terasa aman terkendali. Saya jalani hari seperti biasa tanpa rasa curiga sedikit pun.
Hari Rabu, sakitnya ternyata belum mau kompromi. Karena masih mengganggu, saya akhirnya memutuskan untuk izin Work From Home (WFH). Semua tugas pekerjaan tetap bisa saya selesaikan, hanya saja polanya sedikit berubah: kalau sakitnya mulai terasa, saya bawa istirahat dan rebahan dulu, setelah reda, saya lanjut kerja lagi.
Puncaknya di hari Kamis. Pagi itu saya sebenarnya sudah berniat untuk kembali ke kantor. Tapi, sebelum berangkat, saya putuskan untuk singgah sebentar ke Puskesmas Dadok Tunggul Hitam, sekadar ingin minta obat pereda sakit perut.
Di sinilah plotnya berubah drastis berkat kesigapan tenaga medis di sana. Dokter di Puskesmas melakukan observasi yang sangat detail dan langsung menaruh curiga, "Ini sepertinya usus buntu." Saya langsung diberi surat rujukan ke RSUD dr. Rasidin saat itu juga. Saya benar-benar mengapresiasi ketepatan diagnosa awal di Puskesmas Dadok Tunggul Hitam; kalau tidak diarahkan segera, mungkin ceritanya akan beda.
Sesampainya di RSUD Rasidin, saya langsung ditangani oleh spesialis bedah. Setelah di-USG, hasilnya keluar dan cukup mengejutkan: Positif usus buntu kronis. Tidak ada kata pulang hari itu, saya langsung disarankan rawat inap dan dijadwalkan untuk operasi.
Ada satu hal yang sangat saya syukuri: usus buntunya belum pecah.
Dokter bedah bilang, kalau saja saya menunda lebih lama, kondisinya bisa jauh lebih berbahaya. Karena terdeteksi tepat waktu, tim medis RSUD Rasidin melakukan tindakan dengan metode laparoskopi. Bagi yang belum familiar, ini adalah teknik bedah minimal invasif atau operasi "lubang kunci". Dokter hanya membuat sayatan kecil (0,5 - 1 cm) untuk memasukkan kamera mini dan alat bedah. Efeknya luar biasa; minim rasa sakit pasca-operasi dan pemulihannya jauh lebih cepat dibanding bedah konvensional.
Operasi berjalan sangat lancar dan efisien. Masuk ruang operasi jam 08:00 pagi, jam 10:00 saya sudah siuman dan kembali ke kamar inap. Pengalaman selama di RSUD Rasidin benar-benar membuka mata saya bahwa fasilitas kesehatan milik Pemerintah Kota Padang kini sudah sangat prima, profesional, dan modern. Pelayanannya ramah, fasilitasnya bersih, dan penanganannya sangat cepat.
Alhamdulillah, hari Minggu kemarin saya sudah diperbolehkan pulang. Sekarang saya sedang istirahat penuh di rumah dan bersiap untuk jadwal kontrol beberapa hari ke depan.
Sedikit Saran untuk Teman-teman:
Dari pengalaman ini, ada beberapa pelajaran penting yang ingin saya bagikan:
- Jangan Remehkan "Sakit Biasa": Kalau merasakan sakit perut yang menetap lebih dari 2 hari, segera periksakan. Jangan tunggu sampai demam.
- Optimalkan Layanan Kesehatan Terdekat: Jangan ragu ke Puskesmas. Pengalaman saya di Puskesmas Dadok Tunggul Hitam membuktikan betapa responsif dan akuratnya pelayanan mereka.
- RSUD Kita Sudah Canggih: Untuk warga Padang, kita patut bangga dengan RSUD Rasidin. Penanganan operasi laparoskopi di sana sangat profesional. Tidak perlu ragu dengan kualitas layanan kesehatan publik kita saat ini.
- Waktu adalah Kunci: Penanganan cepat menyelamatkan saya dari komplikasi yang lebih berat.
Semoga cerita ini bermanfaat dan kita semua selalu diberikan kesehatan. Jangan lupa dengarkan "alarm" tubuh kita sendiri!
💬 Komentar (1)
Tinggalkan Komentar