Ngopi dulu kita, Pak. Kalau baca berita Sumbar belakangan ini, rasanya ngeri-ngeri sedap. Di satu sisi kita dengar Polda Sumbar panen tangkapan 11 tersangka mafia BBM subsidi. Di sisi lain, kawan-kawan WALHI lagi teriak kencang soal Tambang Emas Ilegal (PETI) di Solok Selatan yang makin brutal sampai gesekan sama warga.

Sekilas urusannya beda ya? Yang satu main jerigen, yang satu main alat berat (beko). Tapi logikanya gini, Pak: itu beko-beko gede di tengah hutan, emangnya jalan pakai air zam-zam? Ya pakai solar! Pertanyaannya, dari mana mereka dapat solar murah ber ton-ton kalau bukan nyedot dari kuota subsidi yang bocor?

Dapur Masyarakat yang Kena Imbasnya Di sinilah letak pedihnya. Mafia tambang ini makin tajir melintir, tapi yang tekor itu masyarakat bawah. Coba bayangin, jatah biosolar yang harusnya buat nelayan melaut atau buat truk pengangkut sayur dari Alahan Panjang, malah diborong mafia.

Ujung-ujungnya apa? Nelayan susah melaut, ongkos angkut barang naik. Kalau ongkos logistik naik, harga cabai, bawang, beras di Pasar Raya ikut meroket. Yang pusing siapa? Ya emak-emak di rumah! Kalau dapur udah susah ngebul, tensi di rumah pasti naik. Ekonomi rakyat kecil dicekik dua kali: hak subsidinya dirampok, alam tempat mereka cari makan juga dihancurkan sampai rawan longsor.

Jangan Cuma Razia, Mainkan Datanya! Langkah Pak Polisi nangkap pelaku sama instruksi Pak Gub buat nertibin tambang itu udah mantap. Kita acungi jempol. Tapi kalau cuma ngandelin razia fisik, ya capek, Pak. Petugas kan nggak bisa nongkrongin SPBU atau ronda di pinggir hutan 24 jam nonstop. Kalau petugas lengah dikit, mafianya main lagi. Kucing-kucingan terus sampai lebaran monyet.

Zaman udah canggih, masa tata kelola pengawasannya masih manual? Kita-kita yang biasa ngurusin infrastruktur digital sama database jutaan baris aja tahu, ngelacak aliran barang begini mah harusnya bisa diakali pakai sistem.

Gini usulannya, harusnya pemerintah daerah mulai bikin dashboard pengawasan yang benar-benar terintegrasi. Jangan datanya silo-silo alias jalan sendiri-sendiri:

  • Pantau SPBU secara Real-time: Tarik langsung log transaksi dari tiap SPBU. Begitu ada anomali (misalnya ada satu SPBU yang jatah solarnya habis nggak wajar dalam sehari), sistem langsung ngasih flagging merah ke dashboard pusat. Biar pemrosesan datanya wus-wus kencang, backend-nya bisa digarap pakai Golang tuh, terus taruh di cluster server lokal yang mumpuni. Aman dan responsif.
  • Mata-mata dari Langit: Buat urusan tambang di pedalaman, sinkronkan data geospasial sama citra satelit. Nggak usah nunggu warga lapor ada beko masuk. Begitu ada anomali pembukaan tutupan hutan yang bukan wilayah tambang resmi, notifikasinya langsung bunyi di smartphone dinas terkait.

Intinya sih, ekosistem digital kita udah mumpuni. Infrastruktur server bisa disiapkan, aplikasinya bisa dibangun. Tinggal mau apa nggak kita ngerapiin database dan saling buka data antar instansi. Masa iya negara kalah pintar kelola data sama mafia yang modal jerigen dan beko?